JAKARTA – Inovasi berbasis pemberdayaan masyarakat kembali menunjukkan potensinya dalam mendorong perubahan lingkungan. Kali ini, inovasi Gantara Berkah berhasil meraih prestasi dalam lomba Bebersih Kampung yang diselenggarakan oleh Bangkit Berdaya, sebuah gerakan yang dipelopori oleh Ida Fauziah.

Keberhasilan tersebut tidak lepas dari semangat pengembangan inovasi berbasis lingkungan yang terinspirasi dari konsep Bang Jali (Bareng Jaga Lingkungan). Inovasi yang dikembangkan oleh Iptu Imam Basori, atau yang akrab disapa Ibas, selaku Ketua RT 11 RW 7, Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, menjadi salah satu inspirasi untuk memperkuat gerakan kebersihan dan pemberdayaan masyarakat di tingkat lingkungan.

Atas pencapaian tersebut, Gantara Berkah mendapatkan hadiah sebesar Rp100 juta untuk mendukung pengembangan inovasi yang dapat dijadikan model percontohan atau role model dan diterapkan di lingkungan RW 7.

Iptu Imam Basori mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Ida Fauziah beserta pihak Bangkit Berdaya atas kepercayaan dan dukungan yang diberikan. Menurutnya, penghargaan ini bukan sekadar pencapaian, melainkan juga kesempatan untuk memperluas manfaat inovasi pengelolaan sampah bagi masyarakat.

“Alhamdulillah, kami bersyukur dan mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ida Fauziah serta Bangkit Berdaya atas kepercayaan yang diberikan. Kami berharap kesempatan ini bisa menjadi langkah nyata untuk menghadirkan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan produktif, sekaligus menggerakkan warga agar terlibat aktif dalam menjaga lingkungannya,” ungkap Ibas.

Tiga Inovasi Pengelolaan Sampah Disiapkan

Dalam rencana pengembangannya di lingkungan RW 7, terdapat tiga inovasi utama yang akan didorong, yakni KOMA, Komling, dan Smart Geprek. Ketiganya dirancang untuk saling melengkapi dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang melibatkan partisipasi aktif warga.

Pertama, KOMA (Komposter Mandiri). Inovasi ini berfokus pada pengolahan sampah organik rumah tangga, khususnya sisa makanan dan sampah dapur, menjadi kompos yang dapat dimanfaatkan kembali untuk tanaman. Melalui KOMA, sampah organik diharapkan tidak lagi sekadar menjadi beban lingkungan, tetapi dapat diolah menjadi sesuatu yang bernilai guna.

Kedua, Komling (Kompos Keliling). Program ini mengusung konsep pengumpulan sampah organik dari rumah ke rumah. Dengan pola pengumpulan yang terorganisasi, warga didorong untuk memilah sampah sejak dari sumbernya sehingga sampah organik lebih mudah dikelola dan diolah menjadi kompos.

Ketiga, Smart Geprek. Inovasi ini ditujukan untuk mengoptimalkan pengelolaan sampah anorganik melalui pemadatan botol plastik dan kaleng. Selain membantu menghemat ruang penyimpanan, sampah yang telah dipilah dan dipadatkan berpotensi memiliki nilai ekonomi melalui pengelolaan serta penyaluran ke mitra daur ulang.

Ketiga inovasi tersebut diharapkan dapat membangun kebiasaan baru di tengah masyarakat, mulai dari memilah sampah di rumah, mengurangi sampah yang dibuang, hingga memanfaatkan kembali material yang masih memiliki nilai guna.

Bang Jali Dorong Gerakan Lingkungan Berbasis Warga

Bagi Ibas, pengembangan inovasi tidak cukup berhenti pada penciptaan alat atau program. Kunci keberhasilannya terletak pada keterlibatan masyarakat, konsistensi pelaksanaan, serta kemampuan membangun kebiasaan positif yang dapat dipertahankan dalam jangka panjang.

Pengalaman pengembangan Bang Jali di RT 11 menjadi salah satu referensi dalam mendorong pendekatan tersebut. Melalui perpaduan edukasi, teknologi sederhana, dan gotong royong, warga diharapkan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pelaku utama perubahan lingkungan.

Rencana penerapan KOMA, Komling, dan Smart Geprek di RW 7 diharapkan menjadi awal pengembangan sistem pengelolaan sampah yang lebih terstruktur dan dapat direplikasi di lingkungan lain.

Ke depan, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari penghargaan atau besarnya dukungan yang diterima, tetapi juga dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat: lingkungan yang lebih bersih, berkurangnya sampah yang terbuang, meningkatnya kesadaran memilah sampah, serta tumbuhnya peluang ekonomi berbasis daur ulang.

Melalui kolaborasi antara inovator, pengurus wilayah, dan warga, semangat Bang Jali diharapkan dapat berkembang menjadi gerakan bersama. Sebab, perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar, tetapi bisa berawal dari satu lingkungan yang berani bergerak dan menginspirasi lingkungan lainnya.

Temukan juga kami di Google News.