JAKARTA PUSAT — Perubahan lingkungan tidak harus menunggu seseorang menjadi pejabat atau memiliki banyak uang. Berawal dari kepedulian, keberanian memulai, dan kemauan menggerakkan warga, sebuah lingkungan yang sebelumnya kurang mendapat perhatian pun bisa bertransformasi menjadi ruang hidup yang lebih aman, bersih, dan produktif.
Semangat itulah yang dibawa Iptu Imam Basori, inovator Bang Jali (Bareng Jaga Lingkungan) yang juga Ketua RT 11 RW 7 Gandaria Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, saat hadir di kawasan Harapan Mulya, Kemayoran, Jakarta Pusat.
Dalam kesempatan tersebut, Imam Basori yang akrab disapa Ibas membagikan pengalaman membangun berbagai inovasi berbasis masyarakat di wilayahnya. Ia menceritakan bagaimana lingkungan yang dahulu kerap dianalogikan sebagai “Gotham City”-nya Gandaria Utara itu mulai berbenah melalui keterlibatan warga dan berbagai program yang dikembangkan sesuai kebutuhan setempat.
Menurut Ibas, perubahan tidak terjadi hanya karena kehadiran teknologi atau program baru. Kunci utamanya justru terletak pada kemauan masyarakat untuk bergerak bersama, membangun kepedulian, dan mengambil tanggung jawab terhadap lingkungan tempat tinggalnya.
“Jangan pernah berpikir kita harus menjadi pejabat dulu atau kaya dulu untuk bisa membuat perubahan. Kalau kita punya kepedulian dan mau mengajak masyarakat bergerak bersama, perubahan bisa dimulai dari lingkungan terkecil, bahkan dari depan rumah kita sendiri,” ujar Ibas.
Ia menegaskan, keberhasilan membangun lingkungan tidak harus ditentukan oleh seberapa besar anggaran yang tersedia atau seberapa canggih inovasi yang digunakan. Menurutnya, setiap wilayah memiliki persoalan, karakteristik, potensi, dan kebutuhan yang berbeda sehingga pendekatan penyelesaiannya pun tidak bisa disamaratakan.
Ibas juga mengingatkan bahwa Bang Jali bukanlah konsep yang harus ditiru secara mentah oleh setiap lingkungan. Justru, pengalaman tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk menciptakan solusi yang sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.
“Tidak harus menggunakan inovasi Bang Jali. Silakan sesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan lingkungan masing-masing. Kalau masalahnya sampah, cari solusi pengelolaan sampah. Kalau masalahnya keamanan, bangun sistem keamanan bersama. Yang penting, jangan hanya mengeluh dan menunggu orang lain bergerak,” tegasnya.
Mengajak Warga Menjadikan Sampah sebagai Tanggung Jawab Bersama
Selain berbagi pengalaman tentang pemberdayaan masyarakat, Ibas bersama Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta juga mengajak warga Harapan Mulya untuk meningkatkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dan mencari solusi bersama atas persoalan sampah.
Persoalan sampah, menurutnya, tidak cukup diselesaikan hanya dengan mengandalkan petugas pengangkut. Perubahan juga perlu dimulai dari kebiasaan warga, mulai dari mengurangi sampah, memilah sampah sejak dari rumah, hingga mengembangkan pengolahan sampah organik dan anorganik sesuai kemampuan masyarakat.
Keterlibatan warga sejak dari sumber sampah dinilai penting untuk mengurangi beban pengelolaan sampah sekaligus membangun budaya hidup bersih yang berkelanjutan.
Dalam konteks tersebut, pengalaman Bang Jali dapat menjadi bahan pembelajaran mengenai bagaimana persoalan lingkungan di tingkat permukiman bisa ditangani melalui kolaborasi, inovasi sederhana, dan pembagian peran yang jelas di antara masyarakat.
“Jangan sampai kita hanya sibuk membicarakan sampah, tetapi tidak melakukan apa-apa. Mulailah memilah sampah dari rumah, menjaga kebersihan lingkungan, dan mengajak tetangga ikut bergerak. Kalau dilakukan bersama-sama, hal kecil bisa menghasilkan perubahan besar,” kata Ibas.
Bang Jali: Inovasi yang Berangkat dari Kebutuhan Warga
Bang Jali atau Bareng Jaga Lingkungan dikembangkan sebagai pendekatan pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan sejumlah inovasi dalam kehidupan sehari-hari warga. Program ini mencakup aspek keamanan lingkungan, pengelolaan sampah, pendidikan, hingga penguatan ekonomi masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, masyarakat didorong agar tidak sekadar menjadi penerima program, tetapi turut menjadi pelaku utama dalam menyelesaikan persoalan di wilayahnya.
Bagi Ibas, keberhasilan sebuah inovasi bukan semata-mata diukur dari kecanggihan teknologi atau besarnya perhatian publik. Ukuran yang tidak kalah penting adalah sejauh mana inovasi tersebut menjawab kebutuhan warga, mendorong partisipasi masyarakat, dan bisa dijalankan secara konsisten.
Pengalaman di RT 11 RW 7 Gandaria Utara diharapkan dapat menjadi pemantik semangat bagi wilayah lain untuk mengembangkan gagasan serupa, tanpa harus menunggu bantuan besar atau perubahan dari tingkat pemerintahan yang lebih tinggi.
Kehadiran Ibas di Harapan Mulya pun menjadi momentum untuk mendorong masyarakat melihat lingkungan tempat tinggal bukan sekadar ruang untuk beraktivitas, melainkan tanggung jawab bersama yang perlu dirawat dan dikembangkan.
Pesan yang ingin disampaikan sederhana: perubahan tidak selalu dimulai dari atas. Perubahan juga bisa tumbuh dari gang kecil, halaman rumah, pos keamanan, hingga kebiasaan memilah sampah di dapur.
Sebab, lingkungan yang lebih baik tidak hanya membutuhkan pemimpin yang memiliki gagasan, tetapi juga warga yang bersedia mengambil bagian. Dan untuk memulainya, masyarakat tidak perlu menunggu menjadi pejabat ataupun menjadi orang kaya terlebih dahulu.



Tinggalkan Balasan